Aku Penari Ronggeng

Aku Penari Ronggeng
Ilustrasi topeng penari

Percayalah, jika aku terlahir kembali aku akan menjadi penari ronggeng. Tak ada yang aneh dengan itu, bukan? Aku berkeyakinan bahwa perempuan selalu memiliki benak bersegi banyak, bercabang-cabang dengan beragam impian yang terjaja di sebentang tikar, bagai aneka penganan pasar yang dijejerkan berdasarkan ukuran, warna atau bentuk.

Demikian pula aku. Semasa hidupku aku ingin menjadi penari ronggeng, walau tak harus pentas di atas panggung. Kurasa dengan rias wajah dramatis dan pernak-pernik yang menonjolkan keelokanku, aku bisa menari dimanapun. Di ladang, di atas awan, di rumah kaca, di persimpangan jalan, di atas menara bahkan di dalam istal. Aku tidak butuh penonton, selain desau angin dan sedikit cahaya untuk menegaskan kehadiranku. Aku merasa hidup sepantasnya dinikmati tanpa harus berpikir tentang kelahiran yang sempurna, perjuangan yang kekal atau kematian yang sia-sia. Aku belajar tentang kepahitan hidup dalam porsi besar dan kenikmatan hidup dalam tatakan gelas kecil. Tak semuanya melulu tentang rasa, karena ada akal budi yang harus diseret paksa untuk masuk dalam bejana yang mulai meluap.

Di saat aku menari, perhatikanlah bagaimana berbagai keajaiban kecil diciptakan oleh sepasang kakiku yang tak pernah bersepatu. Kadang aku berdiri tegak di ujung jari kakiku, meresapi rasa yang begitu melayang, padahal kakiku masih terjejak kuat di tanah. Kadang kakiku berputar-putar bagai gasing yang dimainkan seorang anak terus menerus, seolah hari esok belum tentu terjelang. Kadang aku menari dengan kaki bersimpuh terlipat rapih di karpet panggung yang berwarna merah nyalang, dan sambil kakiku bersimpuh aku menarikan ritme puja dan desahan syukur yang teramat tulus kepada Tuhan karena alasan yang hanya menjadi rahasiaku sendiri.

Aku ingat dulu sewaktu kecil ibu mengajakku ke pentas seni tari di sebuah gedung. Rasanya begitu ajaib melihat kaki anak-anak itu berpindah-pindah, berputar, dan membentuk aneka formasi bentuk yang indah. Rasanya mereka bagaikan sekelompok dewi yang turun melayang di atas kedua kakinya dan menjejak bumi bagai pesawat kertas yang ringan dan mendarat di atas puding berbusa. Aku sepenuhnya sadar bahwa penari itu harus berkaki. Tapi aku menghibur diriku bahwa seorang penari ronggeng tidak perlu kaki yang betul-betul indah, karena dia tak harus menari di gedung mewah, dia bisa menari di pesta kampung atau di acara khitanan dimana orang lebih takjub menonton Sisingaan ketimbang mempelototi kaki si penari ronggeng. Akupun sedikit riang sambil menatap kakiku yang kurus pucat di atas kursi roda.

Saat itu ibu berkata sambil memelukku erat. Sejujurnya aku berusaha mengingat setiap kata yang dibisikkannya.
"Menarilah dalam benakmu sebebas mungkin, Lara...bayangkan alunan musik yang berdesir bagai angin senja, basahkan kaki telanjangmu pada rumput yang baru disiram hujan,  nikmati setiap detik ketika kakimu melangkah berputar. Tarianmu dikendalikan benakmu. Bebaskan saja."

Itu adalah impian terbesarku jika aku dilahirkan kembali, menjadi penari ronggeng. Dan kini setelah aku tiada pada usia 14 tahun karena kanker tulang yang setia menemaniku, aku diberikan kesempatan sekali lagi olehNYA untuk memilih hidup keduaku.  Aku melihat kembali kelahiranku pada sosok gadis cantik yang memiliki dua kaki yang teramat sempurna, yang menjalani sepanjang usianya sebagai penari ronggeng di atas panggung besar, dengan kilauan cahaya yang berpendar di sekelilingnya, dengan tepukan hangat penonton. Tuhan menjawab semua doa masa kecilku di waktu lalu, melebihi semua yang pernah berani kuimpikan.








0 Response to "Aku Penari Ronggeng"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)