Memburu Kenang

MEMBURU KENANG

Tak pernah ada cukup kata saat harus berbicara tentang sebutir rasa padamu. Mungkin dengan diam justru kita bisa saling memahami, lebih sedikit saling melukai, lebih pandai menghitung gelombang nadi yang selalu pasang dan lebih bijak memendam amarah. Bagiku kerap aku ingin pejamkan mata, meraba setiap inci bilur sesal yang tlah terlanjur meranum dalam hati, jauh setelah musim demi musim pamit di tiap kerjap mataku. Betul katamu, sepi itu tidak hanya merobek kenang tapi menderaskan lamunan tentang tempat, kata, janji dan rindu yang ternyata salah dialamatkan.

Kau tahu, ini kali kesekian aku memandang biru langit. Entah dengan cara apa, tapi selalu saja warna langit merona jatuh pada gaunku dan secara ajaib meringkas segala resahku dan melipatnya dalam saku kiriku. Dan yang tersisa hanyalah kenang yang serupa gulali, tentang candaan konyol, gayaku yang lebay, lagu aneh dalam mobilmu atau ketika kau melewatkan kado ulang tahunku dan menggantinya dengan doa untukku pada setiap sujudmu.

Tapi itu cerita kemarin, yang kadang ingin kuletakkan dalam kotak berkunci. Tapi kutahu sulit, karena ada masanya aku merasa ingin bertualang dalam hutan sunyi, membawa busur dan panah untuk kembali memburu kenang bersamamu. Lagi-lagi kau benar, kadang bernyanyi atau menari ternyata bukan hal yang sempurna tuk mengusir kehilangan, karena kenangan tlah menjadikan pembuluh darah kita sebagai rumahnya.

Aku masih saja merawat kenang, meski tak serimbun daun mint yang kita tanam di bawah jendela kamarku. Lucu, ketika itu aku tak setuju menanamnya disitu, tapi kau bilang bahwa aku bisa melihat daun itu tumbuh, menghijau, memetiknya untuk secangkir teh pagi saat membuka jendela kamar. Aku menikmati kebenaran ucapmu. Tapi satu hal yang lupa kau katakan, bahwa aku juga akan melihat daun mint itu mulai layu, gugur satu demi satu, rantingnya mengering, batangnya tak lagi kokoh dan matahari tak lagi singgah memberi kilau pada pucuknya. Aku belajar memahami perihnya kehilangan, tapi selepas pergimu jendela itu tak lagi kubuka, karena kutahu bahwa kelopak daun mint itu tersisa satu. Mungkin besok telah jatuh ke tanah dan diterbangkan angin entah ke penjuru mana, tanpa pernah menunjukkan arah harus kuburu dimana. Ataukah kenang itu tak lagi pantas diburu?


0 Response to "Memburu Kenang"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)