Geliat Tanjung Bongo


mari pergi
ketika kota kehilangan kilau
dan wajah kekasih jadi dingin
bersampanlah ke hulu ikuti hasrat angin

kini kau tiba di Doro Somola
gugusan pulau kecil yang rebah
pada punggung laut hijau
dimana air dimabukkan oleh warna ikan
langit biru berahasia tentang kepak awan
bak perawan berburu bahagia di hutan kenangan

tanjung ini tak pernah lelap
ombaknya tak pernah garang
tanahpun tak pernah menggerutu menjadi tikar bagi tubuhmu
tidurlah sambil menatap bintang biduk
menghitung butiran puisi yang jatuh
mendekap hangat bulan di pangkuanmu
orkestra alam kan membujuk rimbun dedaunan berbagi tetes embun

jelang fajar
para perempuan penunjuk arah
menggirangkan lidahmu
dari ikan aroma pandan
dari hijau daun pepaya
dari tumang sagu
dari kenari yang dipedaskan

saatnya sampan-sampan ditambatkan
tetabuhan tifa memanggil nama yang paling indah, kembang yang paling rekah, jantung matahari yang paling cahaya, kayu yang paling hanyut, bebatuan yang paling beku dan tarian yang paling merindu
tuk membaca keelokan Galela

disini perjalanan tak pernah ingin saling menjemput pulang
bagai cumbuan rempah di lesung kayu
bagai kapur dalam kotak sirih pinang
sungguh.....disini karnaval rasa tak berakhir hanya semusim
karena sauh tlah lama dimukimkan
jauh sebelum tanjung, tanah dan laut saling membisikkan cinta
"datanglah, temukan kami."



0 Response to "Geliat Tanjung Bongo"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)