Anak-Anak Senja

Anak-Anak Senja

Kami tinggal dan besar di negeri ajaib. Aku dan teman-temanku Fajar dan Mentari sangat terkesan dengan segala yang ada di sekitar kami. Kata pak guru, apapun yang disentuh di negeri ini akan menjadi emas, akan menjadi apapun yang kami impikan. Wah....itu keren banget dalam alam pikir kami bocah kelas 4 SD. Kami bertiga begitu bersemangat saat istirahat sekolah. Kami duduk pada bangku panjang di depan kelas dan membuat rencana akan menyentuh apapun yang kami impikan yang ada di sepanjang perjalanan saat kami jalan kaki pulang dari sekolah.

"Senja, aku ingin menyentuh tanah sepanjang jalan masuk ke kampung. Aku memimpikan ada lapangan bola sehingga aku tak perlu pergi jauh ke Kecamatan setiap minggu untuk bermain bola." ujar Fajar riang perihal inpiannya.

"Kalau aku ingin menyentuh jembatan gantung kita di atas sungai. Jembatan itu udah jelek, tali pegangannya hampir putus. Ingat saat Tiara jatuh di sungai sepulang sekolah dan terbawa arus?"
Suaraku kian lirih mengenang sahabat kami Tiara yang menjadi korban jembatan gantung yang dibuat sendiri oleh warga kampung. Sesaat kami bertiga hanyut dalam hening kenangan terhadap Tiara. Semoga di surga dihiasi jembatan indah yang kokoh tempat Tiara bermain tanpa takut terjatuh.

"Aku ingin menyentuh semua perahu yang ada di pantai kampung kita hingga berubah baru, bocornya hilang. Pasti papaku akan membawa lebih banyak ikan sepulang melaut. Biasanya kami akan dibelikan baju baru untuk lebaran, dan martabak jumbo."
Mentari berkata tegas seolah memastikan bahwa hal itu memang harus terjadi.

Sepulang sekolah dengan riang kami berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang berlubang besar-besar. Kami menyentuh jembatan gantung yang lapuk, singgah menyentuh perahu-perahu nelayan sepanjang pantai dan menyentuh tanah di jalan masuk ke kampung, berlari berputar-putar seukuran lapangan bola sambil membayangkan lapangan bola dengan dua gawang yang bertiang dan berjaring kokoh. Ah...alangkah senangnya kami bermain bertiga siang itu, terlupa akan rasa lapar dan waktu yang memasuki senja.

Saat pulang, papa bertanya mengapa aku pulang terlambat. Dengan berapi-api dan napas memburu oleh semangat, aku menceritakan semuanya. Tentang negeri ajaib ini,  perkataan guru tentang merubah mimpi, tentang perjalanan panjang kami sepulang sekolah dan tentang segala harapan yang kami sentuh dengan jari-jari kecil kami untuk menghadirkan mimpi.

Papa mengelus rambutku, mendudukkan aku di pangkuannya dan berkata lembut.
"Senja...yang dimaksud guru kalian adalah negeri kita memiliki kekayaan yang berlimpah namun perlu dikelola oleh generasi yang hebat seperti kalian saat dewasa nanti. Yang kalian sentuh tadi adalah mimpi terbaik yang harus diwujudkan melalui kerja keras."
Aku kemudian paham tentang hal itu.

Esoknya Fajar bercerita bahwa ayahnya yang merupakan kepala kampung kami berkata bahwa jangan pernah berharap akan ada jembatan gantung yang kokoh, lapangan bola dan perahu-perahu baru untuk nelayan di kampung kami. Karena di kampung kami, Bupati terpilih saat ini kalah telak dalam Pilkada kemarin. Lazim terjadi bahwa pembangunan akhirnya tidak merata, pembangunan akan melompat ketika melewati kampung-kampung tertentu, atau hanya sekedar singgah menikmati kopi seduh pada kunjungan kerja Bupati, nyaris tanpa meninggalkan jejak pembangunan yang terlihat. Segalanya seperti biasa-biasa saja.

Aku terpaku. Kali ini aku tak paham dengan yang diceritakan, berbeda dengan yang diceritakan papa yang bisa kumengerti. Bagiku hal seperti itu terlalu rumit untuk kucerna. Yang aku tahu, ternyata negeriku tak ajaib lagi.

Kupandangi bendera merah putih yang berkibar di tiang sekolah. Ada jembatan gantung, perahu nelayan dan lapangan bola disana. Ternyata untuk bermimpipun kami tak merdeka, bahkan dalam benak sekalipun.

0 Response to "Anak-Anak Senja"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)