Dan Kaupun Pergi


Aku sungguh tak menyukai bulan yang tiba -tiba harus pamit, padahal pagi masih jauh terjelang. Sama halnya dgn aku membenci kata-kata perpisahan yang kini rasanya bersengketa dgn manisnya jumpa pertama kita, Bim...

"Aku ingin membaca puisi untukmu, Senjaku."

Itu katamu, sesaat sebelum kita berpisah. Tapi kukira kenangan akan makin lekat dan airmata semakin menderas kalahkan rinai hujan di luar, dan puisi yg kau baca akan semakin menggarami perihku. Aku tak ingin itu, Bim.

Jika memang sudah saatnya bagimu tuk pergi, cukup kau genggam tanganku, biar kekuatanmu mengaliri segenap pembuluh darahku, lantas semaikan ketabahan yg pintar merawat rasanya sendiri. Juga cukup kau tatap mataku biar keyakinan yg ada pada pupilnya, ranumkan sepiku yg hebat menjaga penantiannya. Kupikir aku akan baik-baik saja, jika kau kecup keningku biar kenangan kita menari disana, tak lantas turun ke pipiku karena disitu tempat lena ketika setiap butir airmata melewatinya.

Jangan pernah resah dan menderet silangkan berapa kali purnama yang akan melanglang di langit sebelum kita bertemu kembali. Tersebab rindu tak akan menjadi belukar bersisian dengan bintang, pun mengerami cahayanya dan menggulitakan semesta. Rindu cukup beranak pinak dalam dadaku, membuat lekukan teramat dalam dan terpenjara disitu hingga kau kembali suatu saat, dan membebaskannya walau harus pecahkan setiap inci dadaku.

Ini perihal perpisahan yg semestinya indah, Bim,jangan pernah menengok ke belakang. Karena aku tak ingin kau melihatku letih sandarkan segenap gelisahku pada pucuk daun, dan baringkan anak rinduku pada sisi embun. Doakan saja bahwa DIA akan selalu menjagaku lewat doa-doa yg terpeluk erat olehku. Dan jika suatu saat kau tak kunjung kembali, kupikir sebaiknya kita saling membebaskan dalam diam.

0 Response to "Dan Kaupun Pergi"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)