Perempuan Cenayang

perempuan, cenayang

Aku datang padanya di senja beraroma magis. Perempuan berambut perak, bermata sekelam karang hitam dan kulit sepucat bola kristalnya.
Suaranya mengangkangi angin.

Waktupun menggantung saat pendulumnya bergerak kanan kiri, tik...tak, antara pelipis dan pangkal alis, berdenting, berderau, memagnet mataku laksana batu bergelayut pada pelupuk. Hening, bening, cahaya kian tirus, menepi.

"Aku tahu ada luka menganga pada jantungmu."
Perempuan itu membedah dadaku, menghitung luka dan bilur kecil yang bergerak naik turun antara dada dan perutku, singgah ke ubun-ubun, otak dan kembali ke sarangnya, hati.

Manteranya mengalun beriak mencipta ombak,  bergemuruh meledakkan rumah kaca, pecah ke segenap mata angin.

"Dimana hatimu? tak kutemukan hatimu."

Cenayang itu menangisi aku, menjahit dadaku kembali dengan benang huruf misterius yang dibaca dari kanan ke kiri.
Ya..Kitab itu, yang telah lama kutinggalkan berdebu.
Sayatan luka jadi sunyi

"Pulanglah, dan bacalah. Kembalikan hatimu dengan memuliakanNYA, Dia yang mengetahui seluruh rahasia langit dan bumi. Cerita hidupmu telah dipahat pada hatimu olehNYA."

Akupun pulang pada jatuhnya malam
mencari hatiku, mengharap hari berbangkit


0 Response to "Perempuan Cenayang"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)