Kelak Ketika Kau Kembali


Bim...aku lupa menghitung sudah berapa lama kita tak jumpa. Rasaku baru kemarin, karena derai tawamu masih terbawa dersik angin dan senyummu masih kujumpai di sepanjang selasar rumahku pada gigil malam. Nyanyianmu masih berkisah tentang penantian yang tak lagi sabar tuk terabas waktu yg tak kunjung menggenap karena cemasmu yang selalu ligar. Ternyata percikan bara rindu masih saja hadir setiap kulewati tempat dimana kita pernah menghabiskan waktu bersama. Dulunya...

Bim...Aku lupa menghitung sudah berapa kali puisimu pecah di dadaku. Kadang walau tak berjudul, tapi rasaku kerap temukan celah kosong yang kutahu kau ingin agar aku mengerti lakuna itu untukku. Cinta pada akhirnya mengajariku berbagai rasa yang awalnya tak kukenali. Ibarat karang, aku menjelma jadi tegar, kokoh tak bergeming terhadap air laut yang berulang menyinggahiku tapi tak pernah sanggup menghempaskanku. Tersebab yang kutahu hanya kau yang akan tinggal dalam ceruk karangku berbekal kitab, tasbih dan sajadah yang pada saatnya  akan mengikis sepiku hingga luruh. Hanya dengan doa darimu yang perindah wasilah kita, tak saling menggugat.

Bim...musim berlalu sangat cepat. Aku lupa menghitung berapa musim yang memberi jarak bagi perpisahan kita. Terkadang pada musim gugur, kupunguti dedaunan yang cokelat kadang magenta dan kukumpulkan untuk membingkai piguramu. Pada musim panas kuundang matahari singgah berkali-kali pada tamanku tuk hangatkan bunga aster yang dulu kita tanam berdua (sejak kau pergi aster itu tak lagi berbunga). Yang paling kusuka adalah musim penghujan, karena aku bisa berada di bawah langit dan membiarkan butiran hujannya menderas di tubuhku, kelabui derasnya airmata dan membasuh sepotong hatiku yang tersisa setelah kau pergi. Biasanya kutitipkan banyak doa untukmu pada gerimis, tersebab aku percaya bahwa setelah doaku dijatuhkan oleh gerimis ke bumi katanya doa-doa itu akan lantang terdengar di langit.

Bim...aku selalu lupa merawat kenangan kita dengan baik. Tapi kau tahu kan, aku tak pernah alpa menguburkan kasih kita dalam dadaku, tanpa ada retakan sedikitpun, sempurna bak nirmala. Itu sulit bagiku, tapi kita tak pernah bisa tahu kelabunya awan hingga kita berada di tengahnya, bukan? Kau bisa hitung banyaknya bilur yang kandas dekat nadiku, karena bahagiaku telah kau kantongi saat pergi. Tapi tak mengapa, tersebab kaupun tlah tinggalkan sesuatu untukku yaitu pendar cahaya matamu. Matamu teramat kelam kehilangan sinarnya saat kau berjalan menjauhiku.

Bim...Kelak ketika kau kembali, pendar dan cahaya matamu masih kusimpan dan kini terperangkap dalam peti mati kecil terkunci yang berukir namamu. Bila kau masih menginginkannya, kuncinya telah lama tertancap di sepotong hatiku yang telah mengering dan ringkih ditutupi lumut sesal. Bawalah belatimu, tusukkan saja di hatiku dan keluarkan kuncinya walau harus terburai berdarah-darah. Kali ini tak lagi ada cara lain, Bim...

Dengan apa akan  kau bayar penyesalanmu nanti?

0 Response to "Kelak Ketika Kau Kembali"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)