Sayangilah Payung Hijauku, Tuhan...

sayangilah+payung+hijauku+tuhan...

Senang rasanya melihat gerimis turun. Kadang aku merasa lucu, apakah karena aku memiliki payung mungil berwarna hijau berkembang merah yang selalu kubawa, ataukah karena aku juga memiliki jas hujan berwarna kuning bergambar Dora Emon biru yang agak kebesaran? Aku merasa selalu siap mengalahkan hujan.Tapi aku lebih suka memakai payung daripada jas hujan, karena payung itu pemberian mama saat ulang tahunku yang ke 6 tahun lalu. Mama bilang aku boleh menari dalam hujan asalkan aku memakai payung. Lucu, karena hanya sedikit air hujan yang akan menempel di badanku.

Aku sering berpetualang dengan payungku, meski hari tak hujan. Ke warung depan rumah untuk beli telur dengan si Mbok, ke rumah tetangga untuk main lampion dengan temanku Ling-Ling (padahal aku lebih kecil darinya), ke tempat persewaan buku di sudut jalan, ke sekolah maupun ke kebun binatang atau tempat lainnya. Kadang dalam kamarpun aku memakai payung, pada saat aku berpura-pura menjadi 'Nanny McPhee' si pengasuh anak yg mendarat dengan payung terkembang di depan pintu rumah. Jadi aku berdiri di atas tempat tidurku, membuka payung dan "melayang turun" dengan anggun di lantai kamarku. Mendebarkan...

Aku dan payungku adalah sahabat sejati, tentu saja payungku ada pada nomor urut dua setelah Sophia sahabatku. Namun suatu hari ketika aku demam dan tak suka makan, aku harus menginap di Rumah Sakit selama lima hari dijaga bergantian oleh mama dan papa. Kamarnya seperti hotel dengan makanan yang banyak dan selimut bulunya yang lembut bergambar Barbie, apalagi Sophia datang dengan sekeranjang buah. Aku suka, tapi aku tetap saja merindukan payung hijauku. Aku mulai merengek minta mama agar membawakan payungku ke RS dan aku berjanji tidak akan melompat dengan payung terkembang dari tempat tidurku. Tentu saja karena ranjang di RS ini sangat tinggi, dan aku cerdas untuk tahu bahwa itu cukup berbahaya. Aku tak mau lututku sakit dan juga payungku rusak karena kata mama payung yang berwarna hijau tinggal satu-satunya di toko itu.

Aku agak heran karena sore ini mama terlihat agak muram ketika menjengukku. Kulihat juga tangannya tak mengepit payungku, mungkin saja ia lupa dan meninggalkannya di mobil.

"Payung hijauku dimana, mama?" tanyaku

"Ehm...Anya mau nggak mama belikan payung baru yang lebih bagus dari itu?"

"Anya ngga mau, payung hijau itu masih bagus , mama."

"Tapi payung itu sudah hilang, Anya. Mama terlupa meletakkannya di luar rumah karena masih basah. Tp ketika mau mama bawa ke dalam rumah, payung itu udah nggak ada.  Mama udah cari kemana-mana tapi ngga ketemu. Anya ngga marah kan..?"

Ah, mama...betapapun aku merasa sedih kehilangan payungku, tentu saja aku tak mungkin marah padamu walaupun kurasa pipiku membasah oleh air mata. Mama tetap orang yang favorit untukku, manis, baik hati, penuh cinta padaku, walaupun tubuh mama tak berwarna hijau dan berkembang merah seperti payungku yang kusayangi. Mama memelukku erat dan menghapus air mataku , berjanji akan mengajakku membeli payung tercantik di Mall yang baru dibuka minggu lalu. Aku berusaha tersenyum agar mama tak merasa bersalah atas kesedihanku. Aku harus menghibur mama sebelum berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan melihat aku sangat menyayangi mama hingga Tuhan mau mengabulkan doaku.

"Tuhanku, semoga orang yang mengambil payung hijauku adalah seorang anak perempuan yang penyayang seperti aku, dan mau mengajak payungku menari di tengah gerimis. Aamiin...."


Fiksi Mini Terpopuler :
Pulanglah Nadya