Pulanglah Nadya

pulanglah nadya



Aku tak pernah percaya pada hal-hal yang berbau mistis, di luar nalar dan segala sesuatu yang (maaf) dimisteriuskan. Aku lebih suka menggeluti realitas, karena hidup tak perlu menjaring berbagai mimpi buruk yang bukan milik kita.

Kenyataannya suatu hari aku bersua dengan "mahluk" itu. Laki-laki hitam yang berambut beriap setengah keemasan, telinganya tak lazim untuk ukuran manusia, bermata tajam agak kemerahan seperti menyihir dan nyanyiannya yang seakan menuntun imaji ke kehidupan lain.
         
Kami bertemu di taman menjelang sore, duduk berhadapan pada dua kursi taman. Dia sedang bersenandung kecil lagu entah apa,dan aku sedang menulis puisiku. Nyanyiannya terdengar makin aneh, menghipnotisku untuk melihat ke arahnya. Kami bertatapan dan aku tak lagi bisa memalingkan mataku dari matanya, sekuat apapun aku berusaha.

Kurasakan sesuatu yang aneh terjadi, tubuhku merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Badanku terasa ringan, mulutku kering dan pikiranku seolah berkelana menembus batas ruang dan waktu. Aku tak hanya bisa melihat ke kedalaman matanya tapi kudapati diriku "melangkah" masuk melewati kedua matanya. Nyanyian itu terus memanggilku "Kemarilah...lintasi ingatanmu, Nadya."
             
Aku tersentak, kulihat kota kecil yang asing, sunyi, hanya dedaunan kuning terserak, angin yang  kering tak ramah dan semua pintu tertutup rapat. Kota ini terlihat beranjak mati.

Hanya ada satu kereta bayi tertutup kain putih menunggu untuk kubuka? Dengan perlahan kusingkap kain putih itu, terperanjat dan menggigil dengan suara tercekat. Bayi 7 bulan itu adalah diriku, dengan rambut berwarna burgundy, memakai kalung yang sama dengan yang kupakai saat ini, kalung bulan sabit. Aku memakai bulan sabit melengkung di kanan, dan bayi itu memakai kalung bulan sabit melengkung di kiri. Apabila kami menyatukan keduanya, akan berbentuk bulan purnama penuh.

Bayi itu menatapku dengan penuh kebencian dan membuka dua telapak tangannya yang kecil yang bertuliskan "Aku mati" di telapak kiri dan "Kau hidup" di telapak kanannya.
         
Tiba-tiba saja lelaki aneh bermata kemerahan yang duduk di taman itu, muncul dari lorong gelap di sudut jalan. Ia merebut kereta bayi itu dariku, dan berlari kencang sambil mendorong kereta itu hingga di persimpangan jalan yang mulai menurun tajam.

Aku berlari dengan sia-sia di belakangnya untuk mengejarnya, dan ketika kereta bayi itu dilepasnya, kereta itupun menggelinding laju, jatuh keras di atas jalan yang berkilau karena panas matahari. Akupun jatuh terduduk dengan jeritan putus asa yang menyeramkan seolah itu bukan suaraku.
         
Aku tersadar, lemas dengan keringat membanjiri bajuku. Kudapati diriku masih duduk di bangku taman itu, gemetar sambil memegangi kalung bulan sabitku. Di hadapanku lelaki dengan mata merah itu tak lagi ada, hanya tersisa malam yang mulai turun menyelimuti taman, dan aku yang duduk mematung.

Semua kenangan berkilasan, saat ibu dan ayahku menunjukkan foto dua orang bayi terlahir kembar yaitu aku dan bayi yang kulihat tadi (pada mimpiku atau nyata). Ibu bilang saudara kembarku meninggal sekitar 1 jam setelah kami terlahir.

Aku melangkah lambat ke luar taman sambil berpikir dan tersadar bahwa ada teka-teki bahkan misteri yang bisa muncul kembali secara gaib dalam hidup setiap orang. Angin berdesah lambat, dan suata itu kembali berkata "

Mari...Pulanglah Nadya."


Fiksi Mini Lainnya :
Mencemburui Kopi
Suatu Pagi di Salon
Sayangilah Payung Hijauku, Tuhan...

0 Response to "Pulanglah Nadya"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)