Mencemburui Kopi

Bagimu pagi selalu gemerlap, menggairah- kan rasamu saat ritual kopimu dimulai.
Kau selalu berkata padaku "Pagi dan kopi adalah sebuah kerinduan," sambil memilih di antara sederet cangkir khusus kopimu dalam aneka bentuk.

Cangkir hari Kamis-mu adalah. mug hitam bergambar hati merah dan bertuliskan " Kopi adalah hidupku." (Bagaimana dengan diriku?).

Bagimu menyeduh kopi dengan air dari dispenser adalah pengkhianatan terhadap harga diri kopi, karena kopi yang nikmat harus diseduh dengan air panas yang dijerang di atas kompor dalam titik didih yang berderajat tertinggi.

Kadang untuk membuat kopi ala Cafe, kau begitu tenggelam dalam ketelitian tingkat tinggi dengan segala piranti mesin Esspresomu, dengan begitu banyak pernak pernik hebohnya (lagi-lagi; hanya untuk segelas kopi Arabica?)
           
Kadang ketika kuprotes kau selalu terlihat putus asa menjelaskan tentang nilai filosofi yang tinggi dari kopi, bagaimana perjalanan kopi sebelum sampai ke cangkirmu, apa saja manfaat kopi, jenis kopi capuccino, coffe late, moccha latte, espresso, kopi tubruk dan liqueur coffe, bla.bla.bla (sedangkan tanggal ulang tahunku tak pernah kau ingat). Lagi-lagi kopi mengalahkanku)
         
Ketika selesai meracik kopimu, dengan girang kau akan mengajakku duduk di taman belakang sambil mereguk puas dan memuji tinggi rasa kopimu (aku curiga dirimu utuh membahagia bersama kopi daripada bahagia bersamaku.) Dari mulut- mu yang beraroma kopi, segalanya mulai tertutur, tentang puisi-puisi indah yang terinspirasi dari secangkir kopi, tentang romantisme kenangan kita berdua, dan sebagai klimaks memikat dari efek kopimu, kau berjanji akan menghadiahi gaun yang kita lihat di etalase toko kemarin .(bagian ini yg paling kusuka dari efek secangkir kopimu)

Saat itulah kusadar, tak pantas untuk mencemburui kopimu.

Fiksi Mini Lainnya : 
Pulanglah Nadya
Suatu Pagi di Salon


0 Response to "Mencemburui Kopi"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan lagi santun ya :)